6.07.2015

MUKENA PUTIH TUA (OLD WHITE MUKENA)

Setelah berbulan-bulan Aini menyisakan uang jajannya yang sedikit ke dalam celengan tanah liat, tiba juga saatnya untuk memecahkannya. Prang! Dengan sedih Aini memandang pecahan celengan tanah liatnya dan uang logam yang berserakan di lantai. Uangnya belum banyak, karena uangnya sering diambil jika ada keperluan. Dengan hati-hati, diambil-lah kepingan-kepingan logam itu. Ada tujuh lembar uang kertas, sisanya logam lima ratus dan seratus rupiah. Sambil Aini memunguti uangnya, mulutnya tak henti menghitung. Setelah selesai, Aini mendesah kecewa dan sedih karena uangnya tidak lebih dari lima puluh ribu! Lalu Aini meletakkan uangnya di mangkuk plastik.
Dengan uang segitu Aini tidak bisa membeli mukena baru. Padahal, mukenanya belum diganti hampir dua tahun dan sudah jelek, ukurannya sih masih cukup dibadan Ainin. Dulu ibunya sengaja membelikan yang lebih besar dari tubuh Aini. Kata ibu “Aini cepat tumbuh besar. Jadi daripada nanti mukenanya cepet kekecilan ditubuh Aini, lebih baik kebesaran dan bisa dipakai sampai Aini besar nanti. Tapi, ibunya meninggal sebelum Aini tumbuh besar. Masalahnya Aini belum pandai mencuci, tangannya yang masih kecil tidak kuat menggosok dan membilas pakaian. Kalau Bapak yang mencuci paling-paling hanya merendam baju-baju di air sabun, setelah beberapa lama pakaiannya langsung diperas tanpa digosok dan dibilas, lalu langsung dijemur. Bukannya seluruh pakaian makin bersih, tapi justru semakin tidak bersih. Begitu pun mukena Aini, warnanya tidak lagi putih bersih. Bagaimana tidak, ainai memakainya lima kali dalam sehari, kalau harus dicuci biasanya sesudah subuh sehingga pada waktu zuhur mukenanya sudah kering. Tapi kalau musim hujan berbeda lagi, Aini terpaksa memakai sarung dan kain yang dijadikan kerudung besar agar semua aurat tertutup rapat.
Dua hari lagi bulan puasa, dan besek malam mulai shalat tarawih itu artinya Aini dan kawan-kawan akan menjalani rutinitas malam yang menyenangkan. Tahun lalau Aini berhasil shalat tarawih sebulan penuh, bulan puasa memang selalu menyenangkan bagi Aini. Kadang Aini berbuka bersama temannya bahkan pernah juga sahur bersama teman-temannya. Tapi bulan puasa kali ini lain, Aini tidak terlalu antusias menyambutnya, soalnya mukena Aini sudah jelek. Aini malu memakainya apa lagi jika berjejer dengan teman-temannya, pasti kelihatan banget perbedaannya.aini ingin sekali membeli mukena baru, tapi sayangnya tabungan Aini tidak cukup banyak. Aini memutar otak, apa yang harus dilakukannya? Masa tidak pergi tarawih hanya karena malu?
Gadis manis yang sedang bingung itu duduk merenung sambil tak henti berfikir. Meminta uang pada Bapak rasanya tak tega. Aha! Sebuah ide bagus hadir diotak Aini. Ya, Aini bisa mendapatkan mukena putih bersih tanpa harus membelinya. Cukup dengan membeli pemutih pakaian dijamin mukena Aini putih cemerlang.
Dengan semangat Aini mengucek-ngucek mukenanya, sudah berulang kali Aini menggosok dan membilas mukena itu. Udara pagi yang masih dingin tidak dihiraukannya karena ia sudah terbiasa mencuci mukena setelah subuh. Langkah terakhir adalah mencelupkan mukena ke larutan pemutih.
“Oke, deh.” Aini bicara sendiri saking semangatnya. Ia siapkan ember berisi air yang sudah dicampurkan pemutih.
“Bismillah!” serunya sambilmencelupkan mukenanya ke dalam ember.
“Yah.. harus ditunggu sampai berapa menit ya?” desah Aini kecewa, karena di botol itu tidak disebutkan dengan rinci aturam pemakaiannya.
“Hemm.. mungkin sepuluh menit cukup.”
Buru-buru Aini masuk rumah melihat jam dinding. Sepuluh menit berlalu, Aini mengangkat mukenanya.
“Kok warnanya tidak berubah ya? Mungkin Aini kurang lama merendamnya. Kali ini, kau kuberi waktu setengah jam!“ gadis itu kembali merendam mukenanya dan berlalu menuju kamar mandi.
Sehabis mandi, Aini kembali melihat mukenanya, tetap saja warnanya tidak berubah. Yah, memang agak terang tapi Cuma sedikit! Apa boleh buat usaha Aini sudah maksimal. Akhirnya Aini memutuskan untuk melakukan usaha terkhirnya. Ia akan mencuci mukenanya sekali lagi. Gadis manis itukembali menaburkan sabun, kemudian menggosok mukenanya, kali ini dengan ekstra tenaga dari tangan kecilnya. Srek!
“Oh, tidak!” serunya cemas.
Ia bentangkan mukena itu dengan tangannya. Tubuh Aini lemas, cairan bening menetes satu-satu dari matanya yang sayu. Setelah menjemur mukena putih tuanya yang sobek, Aini langsung menuju kamarnya, menelungkup di kasur, dan langsung menangis tersedu-sedu.
“Loh , Aini kenapa menangis?” Bapak membuka pintu kamar Aini dan heran melihat putri satu-satunya itu sedang menangis. Bapak menghampiri Aini lalu duduk di tepi kasur dan mengelus rambut Aini.
“Ayo, dong katakan pada Bapak, apa sih yang membuat anak Bapak jadi sedih seperti ini?” Aini membalikkan badan dan menggelengkan kepalanya.
“Besok kan puasa, Aini kok malah sedih?” tanya Bapak sabar, “biasanya Aini yang paling bersemangat. Nanti malam sudah tarawih loh.”
“Justru itu pak.” Aini tak tahan juga untuk bicara. “Aini malu tarawih . mukena Aini  sedah jelek. Warnanya sudah putih tua.” Kata Aini sambil menahan tangis.
“Ha ha ha…” Bapaknya malah tertawa. “Ada-ada saja kamu ini. Mana ada warna putih tua?”
“Ada!” seru Aini. “Mukena Aini putih tua. Dibilang putih, engga. Dibilang cokelat, bukan. Kuning juga engga. Apa lagi kalau bukan putih tua. Modelnya sudah ketinggalan zaman. Sudah jarang yang pakai mukena terusan selain ibu-ibu dan nenek-nenek!” Aini mengomel menumpahkan semua kekesalannya.
Bapak manggut-manggut.
“Aini kan malu shalat di masjid. Teman-teman yang lain mukenanya bagus-bagus.”
“Loh, punya Aini juga berwarnakan?” tanya Bapak. “Tadi Aini bilang, mukena Aini berwarna putih tua.”
“Bapak!” Aini mencubit lengan Bapaknya. “punya Sri dan Nenden warnanya merah dan biru muda. Pokoknya bagus sekali. Coba deh, Bapak bayangkan kalau Aini shalat berjejer dengan mereka.”
Bapak mendongak, berlaga sedang membayangkan sesuatu.
“Kebayangkan pak, mukena Aini paling jelek?”
Bapak manggut-manggut. “menurut bayangan Bapak,” ujar Bapak, “ mukena Aini memang yang paling jelek.”
“Tuh kan?”
“Modelnya juga paling kuno.”
“Memang!”
“Kalau ada kontes mukena idaman, sudah pasti Aini kalah.”
“Bapak!”
Bapak tersenyum. “Untunglah Allah tidak menilai shalat Aini dari model dan warna mukena.”
Aini  tertegun. Bapak benar! Aini jadi maulu sendiri sudah ngomel-ngomel sendirian. Tentu saja Allah tidak akan mengurangi pahala Aini gara-gara shalat memakai mukena putih tua. Walaupun warnanya sudah kusam, mukena Aini selalu bersih dari najis.
“Nanti kalau Bapak punya uang, akan Bapak belikan mukena baru untuk Aini .”
Pipi Aini langsung memerah. Aini sudah menduga Bapak akan beling begitu.
“Tidak usah pak. Aini akan beli dengan uang Aini sendiri kalau tabungan Aini sudah cukup.”
“Semalem Aini memecahkan celengan ya?”
Aini mengangguk
“Uangnya untuk beli mukena?”
Aini mengangguk kembali. “Tapi tidak cukup.”
“Berapa uang Aini dari celengan itu?”
“Hampir lima puluh ribu.”
“Wah, Cuma kurang sedikit lagi dong!”
Aini nyengir. “Tapi sudah berkurang buat beli pemutih.”
“Bapak bangga dengan usahamu nak. Kita memang harus selalu berusaha keras. Tapi tentu saja, jangan terlalu memaksakan diri.”
Aini tersipu malu. Terbayang tadi bagaimana ia terlalu semangat mencuci sampai robek.
“Hemm… begi saja,” ujar Bapak. “Uang kamu disimpan dulu. Besok kita mulai lagi menabungnya. Siapa tahu minggu depan atau dua minggu lagi, kita bisa membeli mukena baru untukmu.”
Aini mengangguk bahagia, karena di hatinya kini telah tertanam satu pelajaran berharga. “Terima kasih Pak.” Aini memeluk leher Bapaknya.
“Tapi setidaknya anak Bapak sudah lebih pandai mencuci.”
“Bapak juga harus belajar mencuci dong. Agar pakaiannya tidak Cuma direndam sembentar trus langsung dijemur!”
“Waduh, anak Bapak tambah galak saja ternyata. iya nanti Bapak belajar nyuci.”
Aini sudah menjahit robekan pada mukenanya dengan rapih, untung saja robekannya di bagian yang terpencil jadi tidak terlalu mencolok. Tentang warna, ya tentu saja putih walaupun putih tua, tapi Aini sudah tidak malu memakai mukenanya waktu tarawih. Justru lebih memalukan kalau tidak tarawih gara-gara mukena putih tua.
“Ainiii…”


Nah, itu teman-teman Aini sudah datang, menjemput Aini untuk shalat tarawih bersama-sama di masjid.



















































4.11.2013

Manfaat baking soda untuk kulit wajah


3 Manfaat Baking Soda untuk Kulit Wajah & Obat Jerawat

1. Mengatasi Jerawat dan Mencerahkan Wajah


Jerawat pada wajah merupakan masalah yang bisa terjadi pada siapapun.
Menangani jerawat dengan baking soda bisa dijadikan alternatif yang layak dicoba.

Untuk membersihkan jerawat caranya: ambil satu sendok makan baking soda kemudian tambahkan dengan tiga sendok makan air.
Campur kedua bahan tersebut hingga menjadi pasta kental. Oleskan pasta ini secara merata pada wajah.
Biarkan selama lima belas menit sampai pasta mengering.
Selanjutnya, bersihkan wajah dengan air biasa. Keringkan wajah dengan handuk kecil yang halus dan kering.

Masker jerawat dari baking soda ini akan membersihkan kotoran dan debu yang menempel di pori-pori kulit serta mencerahkan kulit wajah.

Lakukan perawatan kulit dengan pasta baking soda ini seminggu sekali sebelum tidur.

2. Mencegah Bekas Jerawat


Terkadang jerawat kecil meninggalkan bekas kehitaman dalam waktu lama.
Mengatasi masalah langsung pada akarnya merupakan solusi terbaik untuk menghindari munculnya bekas jerawat di wajah Anda.

Caranya: Buatlah pasta dari satu sendok makan baking soda dan tiga sendok makan air.
Oleskan pasta ini hanya pada jerawat. Biarkan selama semalam.
Pagi hari, cuci wajah Anda dengan air hangat dan keringkan dengan handuk lembut.

Lakukan setiap hari sampai jerawat hilang, ini akan membantu menghindari bekas jerawat yang mungkin muncul.

3. Exfoliant Alami


Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Baking soda juga bekerja dengan baik sebagai agen pengelupasan kulit (exfoliation agent).

Caranya: Campur satu sendok teh baking soda dengan pembersih wajah yang biasa Anda gunakan.
Oleskan campuran tersebut pada wajah kemudian pijat kulit wajah selama 5 menit.
Setelah itu, bilas  wajah dengan air hangat dan keringkan dengan handuk lembut.

Baking soda merupakan exfoliant alami yang berguna mengelupas daerah bekas jerawat, menghilangkan lapisan kulit mati, dan membuka lapisan kulit baru.

Proses ini akan mencerahkan kulit wajah dan membuatnya terasa lebih lembut.
Pengelupasan wajah secara teratur juga efektif mencegah jerawat.
Baking soda merupakan produk alami dan aman digunakan untuk aplikasi topikal.
Pasta baking soda juga bebas dari bahan kimia, sehingga jarang berdampak merusak pada kulit

4.05.2013

Siksa bagi orang yang meremehkan shalat

Fatimah bertanya kepada Rasulullah SAW, “ Wahai Ayahku! Apa siksa bagi orang yang meremehkan sholat, baik laki-laki maupun perempuan?”  kemudian Rasulullah menjawab. “Wahai Fatimah. Barangsiapa yang meremehkan sholat, laki – laki maupun perempuan, maka Allah akan memberikan 15 petaka. Enam diantaranya di dunia, tiga di saat kematiannya, tiga di dalam kuburnya dan tiga pada hari kiamat di saat angun dari kuburnya.”


Enam petaka yang di berikan kepada orang – orang yang meremehkan sholat tersebut di antaranya Allah akan mencabut berkah umurnya, Allah akan mencabut berkah rizekinya, Allah akan menghapus ciri orang shaleh dari mukanya, semua amal yang di lakukannya tidak diberi pahala, do’anya tidak terangkat ke langit, dan tidak mendapat bagian di dalam do’a orang – orang shaleh.
Tiga petaka lainnya yang akan di timpakan oleh Allah kepada orang – orang yang meremehkan sholat di antaranya hatinya dalam ke adaan terhina, lapar dan kehausan, rasa hausnya tidak akan hilang andaikan ia diberi minum satu sungai secara penuh.

Tiga perkara lainnya yang menimpa orang – orang yang meremehkan sholat di dalam kubur yaitu: Allah akan menyeranhkan kepada malaikat yang menakutkan, kubur akan menjepitnya, kuburnya gelap gulita. Sedangkan tiga lagi siksaan yang akan ditimpakan kepada orang yang meremehkan sholat adalah Allah akan menyerahkan kepada malaikat dengan siksa malaikat tersebut akan menyeretnya dengan posisi terbalik, di hisab oleh Allah secara detail, Allah tidak akan menoleh padanya dan tidak mensucikannya dan baginya adzab yang pedih.

Iklim Indonesia Terhadap Letak Geografis





  • Sekitar tanggal 21 Maret, saat matahari melintas ekuator langit, momen ini disebut juga “hari pertama musim semi” di bagian timur bumi, sedangkan di Indonesia sedang mengalami musim pancaroba antara musim penghujan dan musim kemarau, disebut mangsa mareng. Matahari tepat berada pada garis khatulistiwa (0º). Karenanya, Matahari seolah-olah terbit tepat di sebelah timur. Demikian pula, Matahari seolah-olah tenggelam tepat di sebelah barat.

  • Tanggal 21 Juni, saat matahari mencapai deklinasi atau pertama musim panas di bagian utara bumi, sedangkan di Indonesia sedang mengalami musim hujan. Matahari tampak berada pada 23½º lintang utara (LU). Karenanya, Matahari seolah-olah terbit agak sedikit bergeser ke utara

  • Tanggal 23 September, Indonesia sedang mengalami musim pancaroba mangsa labuh (bahasa Jawa) adalah pancaroba antara kemarau ke penghujan. Matahari tampak kembali berada pada garis khatulistiwa. Akibatnya, Matahari seolah-olah terbit tepat di sebelah timur.

  • Tanggal 22 Desember, Indonesia sedang mengalami musim kemarau/panas karena bulan Oktober – April tertiup angin muson barat, angin muson barat bersifat basah karena dari Samudra Pasifik. Matahari tampak berada pada 23½º lintang selatan (LS) jika dilihat dari Bumi. Hal ini menyebabkan Matahari seolah-olah terbit agak sedikit bergeser ke selatan.

  • Tanggal 21 Maret, Indonesia sedang mengalami musim pancaroba mangsa mareng (bahasa Jawa) adalah pancaroba antara musim penghujan dan musim kemarau.  

Keroncong Tugu

                              Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik keroncong, flute, dan seorang penyanyi wanita.

Asal – usul :
      Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya[1]. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.
musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.
Jenis keroncong :
            Musik keroncong lebih condong pada progresi akord dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta adaptasi.

Perkembangan keroncong masa kini :
Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung Tugu tahun 1661, dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara crong-crong-crong, sehingga boleh dikatakan musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880.
          Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini, dengan tiga tahap perkembangan terakhir. Tonggak awal adalah pada tahun 1879, di saat penemuan ukulele di Hawai yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong).
Ketiga tahap tersebut adalah[3]:
(a) Masa stambul (1880-1920),
(b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan
(c) Masa keroncong modern (1960-kini).
[sunting]Masa stambul (1880-1920)
          Ukulele ditemukan pada tahun 1879 di Hawaii, sehingga diperkirakan pada tahun berikutnya Keroncong baru menjelma pada tahun 1880, di daerah Tugu kemudian menyebar ke selatan daerah Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir, sekitar tahun 1913). Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan, antar adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka, gambus, dan keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada waktu itu Stambul I, Stambul II, dan Stambull III. Pada waktu itu lagu Stambul berirama cepat (sekitar meter 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Gesang menyebut sebagai Keroncong Cepat, dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi (perhatikan rekaman Idris Sardi main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen dari M. Sagi).

Pacu jalur

Pacu Jalur merupakan festival tahunan terbesar untuk masyarakat daerah kabupaten Kuantan Singingi khususnya pada ibu kota kabupatennya yaitu Taluk Kuantan yang berada di sepanjang sungai Kuantan. Pada awalnya di maksudkan sebagai acara memperingati hari-hari besar umat Islam seperti Maulid Nabi, ataupun peringatan tahun baru Hijriah. Namun setelah kemerdekaan Indonesia, festival pacu jalur ini ditujukan untuk merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Indonesia. Pacu Jalur adalah perlombaan mendayung perahu panjang, semacam perlombaan Perahu Naga di negeri tetangga Malaysia dan Singapura, yaitu sebuah perahu atau sampan yang terbuat dari kayu pohon yang panjangnya bisa mencapai 25 hingga 40 meter. Di daerah Taluk Kuantan sebutan untuk perahu panjang tersebut adalah Jalur. Adapun tim pendayung perahu (jalur) ini berkisar antara 50 - 60 orang.
Sebelum acara puncak "Pacu Jalur' ini dimulai, biasanya di adakan acara-acara hiburan rakyat berupa tarian dan nyanyian untuk menghibur seluruh peserta dan masyarakat sekitar, terutama yang berada di Taluk Kuantan. Pada acara Festival Pacu Jalur tahun 2009 yang lalu, mulai di perkenalkan oleh Pemerintah Daerah setempat istilah "Jalur" Expo 2009, yaitu sebuah acara Pekan Raya berkaitan dengan Festival Pacu Jalur tersebut.
Tradisi pacu jalur yang diadakan sekali setahun pada peringatan perayaan hari kemerdekaan Indonesia menjadikan kota Taluk Kuantan sebagai tujuan wisata nasional. Perlombaan perahu panjang yang berisi lebih kurang 60 orang di Sungai Kuantan ini biasanya diikuti masyarakat setempat, kabupaten tetangga, bahkan juga ikut pula peserta-peserta dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.
Beberapa kawasan wisata lainnya seperti Tambang Emas di Logas, Arung Jeram di Sungai Singingi dan Pangkalan Indarung, Hutan Lindung Bukit Bungkuk dan Bukit Baling di Singingi, Gua Bunian di Bukit Kanua, kawasan Hiking dan Tracking di Bukit Batabuah. Rumah Tradisional Tua Koto Rajo, Kompleks Candi Sangan.
Konon, kegiatan lomba dayung ini merupakan warisan budaya masyarakat Kuantan Singingi yang telah berlangsung sejak tahun 1900-an. Perahu atau jalur, dahulu, sering dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil bumi atau pun hasil hutan. Kebiasaan menggunakan perahu inilah yang mungkin merupakan cikal bakal kegiatan Pacu Jalur. Pada zaman penjajahan Belanda, Pacu Jalur juga dimanfaatkan oleh pemerintah Belanda untuk memeringati serta memeriahkan hari ulang tahun ratu mereka yang bernama Ratu Wilhelmina. Namun, semenjak Indonesia merdeka, Pacu Jalur berangsur-angsur dijadikan upacara khas untuk merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada awalnya, kegiatan Pacu Jalur hanya diikuti oleh segelintir masyarakat di sekitar daerah Kuantan Singingi. Namun, dalam perkembangannya, kegiatan ini banyak mendapat perhatian dan simpati dari berbagai kawasan, terutama daerah-daerah kawasan Riau dan sekitarnya serta mancanegara. Oleh karena itu, saat ini festival Pacu Jalur tidak hanya milik masyarakat Kuantan Singingi saja, melainkan telah menjadi pesta rakyat milik masyarakat Riau dan kawasan sekitarnya. Festival yang bernuasa tradisional ini telah ditetapkan masuk ke dalam Kalender Pariwisata Nasional (Major Event).

Tarian Mak Yong


TARIAN MAK YONG

Mak Yong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Di zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi.
Dramatari mak yong dipertunjukkan di negara bagian Terengganu, Pattani, Kelantan, dan Kedah. Selain itu, mak yong juga dipentaskan di Kepulauan Riau Indonesia. Di kepulauan Riau, mak yong dibawakan penari yang memakai topeng, berbeda dengan di Malaysia yang tanpa topeng.
Pertunjukan mak yong dibawakan kelompok penari dan pemusik profesional yang menggabungkan berbagai unsur upacara keagamaan, sandiwara, tari, musik dengan vokal atau instrumental, dan naskah yang sederhana. Tokoh utama pria dan wanita keduanya dibawakan oleh penari wanita. Tokoh-tokoh lain yang muncul dalam cerita misalnya pelawak, dewa, jin, pegawai istana, dan binatang. Pertunjukan mak yong diiringi alat musik seperti rebab, gendang, dan tetawak.

Sejarah: Istana kerajaan menjadi pelindung seni tari mak yong sejak paruh kedua abad ke-19 sampai tahun 1930-an. Jika raja mendengar ada penari yang pandai apalagi cantik sedang bermain di kampung-kampung, raja langsung memerintahkan penari tersebut untuk menari di dalam lingkungan istana. Penari yang menari di istana akan ditanggung semua akomodasi serta kebutuhan hidup, dan bahkan menerima pinjaman tanah sawah milik raja untuk dikerjakan.

Kemunduran ekonomi kesultanan akibat kedatangan penjajah Inggris di Kelantan menyebabkan pihak kesultanan tidak bisa lagi menjadi pelindung kelompok pertunjukan mak yong. Akibatnya di awal abad ke-20, tari mak yong mulai berkembang bebas di desa-desa. Pertunjukan Mak yong tanpa patron pihak kerajaan menyebabkan mutu pertunjukan semakin merosot, terutama setelah terjadi bencana banjir besar di Kelantan yang terkenal sebagai Banjir Merah tahun 1926 hingga tahun 1950-an. Selain itu, nilai estetika tradisional mak yong mulai luntur akibat komersialiasi pertunjukan. Lama pertunjukan juga diperpendek dari pukul 8:30 malam hingga pukul 11:00 malam. Selesai pertunjukan mak yong langsung diteruskan acara joget bersama. Penonton naik ke atas panggung untuk menari bersama penari mak yong. Alat musik untuk mak yong juga diganti dengan biola dan akordion untuk memainkan lagu untuk berjoget.
Di pihak kelompok mak yong, nilai moral penari juga mulai merosot. Tidak jarang terdengar kisah-kisah sumbang yang terjadi antara kalangan penari dengan penonton selepas pertunjukan. Keluarga penari mak yong juga menjadi berantakan, perceraian menyebabkan anak-anak menjadi terlantar. Penari mak yong malah banyak yang bangga dengan jumlah suami yang dimiliki. Publik mempertanyakan nilai moral di kalangan penari sehingga citra penari mak yong makin merosot. Keadaan ini membuat citra kesenian mak yong semakin hancur.
Di akhir tahun 1960-an, kelompok tari mak yong sudah tidak bisa dijumpai lagi. Orang yang berniat mempelajari tari mak yong juga tidak ada. Kebudayaan barat yang melanda masyarakat Malaysia makin menenggelamkan kesenian mak yong. Kalau ada pun pertunjukan Mak Yong yang diadakan pada peristiwa penting seperti Hari Keputeraan Sultan, pertunjukan hanya dikerumuni orang-orang tua.
Kelompok Seri Temenggung merupakan pelopor tari mak yong generasi ketiga yang berusaha menghidupkan kembali tari dan nyanyian asli seperti pertunjukan mak yong generasi pertama. Kelompok tari Seri Temenggung masih relatif baru dengan guru-guru yang berasal dari generasi pertama penari mak yong.